Kamis, 15 April 2010
Sabtu, 10 April 2010
Berhadapan dengan Sampah Padat
Tepas Indonesia
Berhadapan dengan Sampah Padat
Oleh: Astrawinata G
Menghadapi sampah padat memang merupakan masalah yang terlihat sederhana namun sesungguhnya rumit. Ada begitu banyak sampah padat di lingkungan sekitar Anda dan di seluruh dunia. Namun, dibandingkan mengurusi sampah padat di seluruh dunia, akan lebih gampang bila kita memulainya dengan mengurusi sampah padat kita masing-masing. Dengan timbulnya kesadaran pribadi, akan timbul efek akumulatif dan menjadi lebih efekif.
Ada tiga langkah dasar yang dapat kita lakukan untuk mengurangi jumlah sampah padat kita, yaitu mencegah timbulnya sampah (termasuk mencegah sebuah benda menyandang predikat "sampah"), mendaur ulang, dan yang terakhir adalah membuang dengan bijak.
Berpikirlah dua kali sebelum membeli sesuatu. Apakah benda ini memang berguna untuk jangka waktu yang panjang atau tidak, dan bila hanya untuk jangka waktu yang singkat, pikirkan juga bagaimana untuk menanganinya setelah Anda tidak membutuhkannya lagi. Anda juga bisa melatih ide kreatif Anda untuk memperbaiki atau bahkan memodifikasi benda tersebut agar dapat digunakan dengan cara yang lain.
Hindari membeli barang yang rutin Anda gunakan dalam kemasan individual. Sebaiknya belikah dalam kemasan yang terbesar, atau beli kemasan refill-nya. Selain lebih hemat, akan mengurangi jumlah sampah yang Anda buat.
Saat berbelanja, hindari menggunakan tas plastik yang terlalu banyak. Ada baiknya satu tas plastik yang besar dan kuat dipakai untuk menampung sebanyak mungkin barang belanjaan, dan tas plastik tersebut digunakan lagi untuk belanja selanjutnya.
Mulailah mengelompokkan bahan-bahan yang Anda ingin daur ulang. Tempatkan bahan aluminium, gelas, kertas, palstik, papan, besi, dan sebagainya dalam tempat yang berbeda. Dengan cara seperti ini, akan lebih mudah untuk mengelompokkan bahan yang akan didaur ulang.
Membuang adalah pilihan terakhir yang dapat dilakukan ketika barang tersebut sudah tidak dapat dimodifikasi, diperbaiki, dan didaur ulang. Namun perhatikanlah bahwa ketika Anda menerapkan dua point diatas, hampir tidak ada sampah padat lagi dirumah Anda, kecuali sampah organik rumah tangga.
Buanglah sampah yang ada dengan bijak dan tidak mencemari tanah dan air. Buanglah sampah pada tempatnya sehingga akan lebih mudah untuk dikumpulkan dan diolah kembali.
Bila menerapkan tiga langkah di atas, Anda akan menemukan bahwa kehidupan kita menjadi lebih bersih, efekti dan efisien. Selamat mencoba.
Curah Hujan Tinggi, BNPB Ingatkan Waspadai Banjir Kiriman di Langkat
Tepas Indonesia
Stabat
Kepala Badan Penanggulan Bencana Daerah (BNPBD) Provinsi Sumatera Utara Salamuddin Daulay, SH mengingatkan perlunya kewaspadaan dini bencana banjir di Kabupaten Langkat.
Sebab, ancaman banjir dapat saja terjadi bersumber dari debit air yang mengalir dari wilayah daerah sendiri maupun dari daerah lain. Untuk itu, banjir kiriman harus diwaspadai dan penanggulangannya dilakukan secara terpadu serta lintas sektoral.
Pernyataan itu disampaikan Salamuddin Daulay pada Sosialisasi Pelaksanaan Kegiatan Proyek Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana di Gedung PKK Stabat, Rabu (24/2).
"Komunikasi dan koordinasi dalam penanggulangan bencana antara pemerintah dan masyarakat harus dibangun dengan baik,"ujar Salamuddin.
Dikatakannya, kegiatan sosialisasi pelaksanaan proyek rekonstruksi pasca bencana ini merupakan upaya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat agar ikut serta mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat pasca bencana.
Bupati Langkat Ngogesa Sitepu dalam amanat tertulis dibacakan Asisten Adm Pemerintahan Drs Astaman mengatakan, dengan melihat volume kasus bencana alam yang terjadi beberapa tahun terakhir ini, Pemerintah Kabupaten Langkat mengambil kebijakan dengan membentuk Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Langkat yang terdiri dari berbagai instansi terkait.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat menghibahkan dana sebesar Rp 7,4 miliar untuk pelaksanaan proyek rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana di 8 kecamatan Kabupaten Langkat yaitu, Kecamatan Salapian, Kutambaru, Sei Bingei, Besitang, Sirapit, Stabat, Sawit Seberang dan Kecamatan Batang Seberang.
Dikatakan Ngogesa, acara sosialisasi proyek rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana ini dilaksanakan guna memberi pemahaman sekaligus pembelajaran kepada masyarakat sebagai pihak pelaku pembangunan.
"Kita dapat mengerti dan maklum kalau masyarakat masih ada yang belum memahami, persoalan bencana, tidak sesederhana yang diduga, sebab permasalahan bencana sangat kompleks," katanya.
Dalam kesempatan itu, diserahkan buku penanggulangan bencana kepada perwakilan peserta. Sosialisasi itu diikuti perwakilan masyarakat di delapan kecamatan penerima hibah program pasca bencana sebanyak 140 orang.
Rabu, 07 April 2010
Tepas Indonesia
KILAS TEPAS FOUNDATION
Tepas Foundation berdiri pada tanggal 22 desember 2000, diLangkat. didirikan oleh anak - anak penggiat seni dan pencinta alam. dengan orientasi kebersamaan. Tepas awalnya hanya berbentuk sebuah komunitas yang dihuni anak - anak muda yang aktif dan agressive dalam membangun jaringan untuk peduli lingkungan dan seni. Tepas sendiri didirikan diawal oleh lima orang, antara lain :
KANG NU
AYAH AYAR
PAK IBE
ANCUNG AZA
TETEH RANI
yang berawal dari sebuah event Lomba Lintas Alam ( LLA )yang bertempat di object wisata TANGKAHAN. Lokasi tempat sendiri sangat kecil sebuah kios yang disewa, dimanfaatkan untuk aktifitas anak - anak tepas ini. Kios ini juga digunakan untuk menjual perlengkapan outdoor, serta rent untuk mountineering, yang dikelola secara bersama - sama. Disinilah mereka berinteraksi satu dengan yang lain seperti membedah buku, saling tukar informasi, memberimasukan untuk mengisi kekurang masing - masing. melakukan monitoring conservation, untuk lingkungan. Komunitas ini juga sempat menjadi motor untuk pola fikir anak muda dalam misi sadar lingkungan. menjadi barometer anak - anak muda, terutama anak muda Langkat. Lama - kelamaan komunitas ini semakin berkembang, dengan makin banyaknya anak muda yang bergabung dalam komunitas ini. Konstribusi komunitas ini terhadap pemerintah daerah Kabupaten Langkat juga cukup besar, mengkonsep sebuah gagasan besar untuk penbentukan SAR diKabupaten Langkat. Mendorong munculnya Lembaga - Lembaga baru yang peduli lingkungan.
Anak - anak komunitas ini, juga banyak mengisi beberapa posisi dalam kelembagaan nasional selain SAR, PMI, TAGANA serta KARANG TARUNA Langkat dan dapat mengisi materi pelatihan - pelatihan. Sepanjang perjalanannya komunitas ini juga mengalami pasang surut dalam lingkungan komunitas ini sendiri, dari mulai krisis pertemanaan, krisis kepercayaan, hingga krisis mental. Namun Kang NU juga menambahkan, Tepas sendiri tetap menjadi pilihan, bagi mereka yang jiwanya telah melekat penuh dihati. Sesuai dengan filosofi tepas yakni menjalin persatuan yang kuat dengan rangkaian jalinan yang menyatu. AYAH AYAR mengatakan, memang tidak dipungkiri dalan komunitas ini juga banyak oknum - oknum dengan mental rendah, ini yang tidak dapat dikontrol secara baik, semuanya berbasis kebersamaan. justru disini kekeliruan menurutnya, sehingga terjadi misi komunikasi, siasat, sampai pada persaingan yang tidak sehat. Dibarengi dengan kesibukan untuk menata kehidupan berkeluarga, intensitas bergabung juga semakin kurang dan akhirnya keluar, tetapi bukan berarti menyerah, tapi untuk menyusun strategi lain, yang diharapkan bisa lebih baik. Dan disadari ini memang bagian dari kesalahan aku ditambahkannya.
Tepas memiliki konsep pemberdayaan bagi setiap orang - orang yang bergabung dalam komunitas ini. kehidupan tanpa batas untuk mengeksplore serta berani berjibaku dengan keadaan, selalu dikedepankan dalam diskusi - diskusi komunitas. Total terhadap pergerakan perjuangan adalah pemikiran yang selalu terbangun dalam komunitas ini. Walaupun beberapa nara sumber mengatakan bahwa sebagian kecil saja yang benar - benar berjalan dalam koridor yang diharapkan. Namun demikian ini adalah proses rentetan perjalanan Tepas, semoga Tepas semakin dewasa dalam menghadapi tantangan kedepan. Serta dapat dijadikan pembelajaran yang sangat berharga nantinya, karena Tepas sendiri akan tetap bertahan selama ada orang - orang yang selalu menganggap tepas ada dihati. Aku juga menanyakan pada salah satu pendiri Tepas, saudara ANCUNG AZA, tentang Tepas. ANCUNG AZA mengatakan suasana yang terbangun ditepas cukup baik, seringnya melakukan kegiatan outdoor dialam seperti camping dadakan tanpa ada perencanaan, melakukan perjalanan yang belum pernah dikunjungi sebelumnya untuk menambah wawasan. Karena sifatnya tidak terkonsep maka kegiatan itu kurang memberikan output kepada setiap anggota komunitas tepas. Kalaupun ada itu hanya sebagian saja, yang memang memiliki pemahaman pola fikir yang baik. Namun memang pertemanan yang terjalin, masih tetap kokoh terjalin seperti filosofi tepas yang mereka katakan tadi. Tidak ada perubahan dalam pertemanan mereka, sampai saat mereka memiliki keluarga masing - masing. Saat ini tepas akan dibangun kembali dengan format yang lebih matang, serta konsep - konsep dan management yang telah dievaluasi dan direncanakan secara baik. Tepas sendiri akan menjadi sebuah lembaga kemasyarakatan yang legal dengan akte badan hukum yang terlampir. keseriusan ini tampak jelas ketika tepas ini dirajut kembali, dengan materi orang - orang yang memiliki kapasitas untuk menangani dan mengevaluasi kejadian dimasyarakat. Beberapa orang - orang lama yang memiliki kapsitas dan loyalitas terhadap tepas pun kembali dihubungi untuk diajak bergabung. Tepas yang akan berubah menjadi Tepas Foundation ini memiliki bidang kelembagaan antara lain :
Advokasi
Education
Gender
Conservation
Childs
Trainning Center
Event Orginizeroutdoors
Disaster and EvacuationHealty
culture and ecotourism
Senin, 05 April 2010
BENCANA
tepas foundationclick web iniTepas Indonesia
Salam Lestari...
Pada Tanggal 2 April tepatnya pada hari jum'at yang bertampat diPamah Durian Kecamatan Kutam Baru. Tim relawan Tagana Kabupaten Langkat, Mengadakan simulasi penanggulangan bencana alam, tepatnya bencana banjir. Tim relawan tagana yang dikomandoi oleh komandan lapangan M.Ahyar dan Ibrahim, Spd, memprakarsai simulasi penanggulangan bencana ini. Simulasi ini dihadiri peserta 83 personil dari seluruh Kabupaten Langkat...peserta dibagi menjadi 2 tim, tim 1 dipimpin oleh tagana hendra, tim 2 dipimpin oleh tagana Husin. Kedua tim mempraktekkan simulasi penanggulangan bencana, dengan instruktur Kang Nu, Mas Wied, Katel yang menginstruksikan agar simulasi, dilakukan secara nyata seperti kejadian aslinya yang berhadapan langsung dengan masyarakat.
Simulasi ini dihadiri langsung oleh Ka.Kan Sos Bpk. Drs. T.M Auzai beserta Ka. Bag TU Hj. Rosferi.S.Sos. Dalam arahannya Ka.Kan Sosial mengharapkan Tagana Mampu menjadi ujung tombak dalam penanganan dan penanggulangan bencana diKabupaten Langkat. Simulasi ini sangat penting dirasakan karena nanti inilah bekal dalam penanggulangan bencana. Dengan panduan instruktur yang mengerti akan kondisi bencana yang sebenarnya, maka diharapkan simulasi ini dapat mengena langsung tentang penanggulangan bencana. Instruktur yang berada dalam naungan Tepas Foundation ini, juga mengharapkan adanya out put yang dihasilkan dari pelatihan simulasi penanggulangan bencana.
Komandan Lapangan Tagana SeKabupaten ( M. Ahyar ) mengharapkan seluruh anggota tagana yang ada diseluruh kecamatan, bisa atau dapat mengimplementasikan, hasil dari simulasi penanggulangan bencana ini pada kejadian bencana yang sesungguhnya ditengah masyarakat.
Ka.Kan Sosial ( Drs. T.M Auzai )menginstruksikan kepada Kordinator Tagana Langkat( Dame Tua Siregar ), untuk mengadakan kegiatan simulasi penanggulangan bencana setiap 3 bulan sekali secara marathon. Agar meningkatnya kapasitas anggota Tagana yang ada diKabupaten Langkat. Komandan Lapangan Tagana ( M. Ahyar ) juga akan serius untuk melakukan perubahan besar dalam instansi Tagana, salah satunya adalah kegiatan simulasi yang diadakan ini, serta beberapa program yang nantinya akan dikembangkan pada setiap anggota tagana seKabupaten Langkat.
Para Instruktur antara lain : Kang Nu dan Mas Wied, mengatakan mereka menyambut baik atas program yang dibuat oleh Tagana Langkat. mereka menambahkan, alur dari keseluruhan simulasi ini sebenarnya sedah baik, namun memang masih perlu adanya perbaikan disana sini. Kang Nu dan Mas wied juga mengusulkan perlu adanya kurikulum untuk program ini. Seorang anggota Tagana, yang juga menjabat sebagai Kepala Desa diKecamatan Tanjung pura, tepatnya didesa Pekubuan( Sofyan. H ), mengharapkan agar pelatihan penanggulangan bencana ini, juga diberikan kepada Kepala desa yang berada diKabupaten Langkat, khususnya didesa yang rawan bencana alam, yang nantinya diharapkan Kepala Desa dapat mengetahui tentang sistem penggulanggan bencana ini, serta ditindak lanjuti dengan memberdayakan masyarakat desanya.
TepasFoundation dalam laporan :
Arif Pranala / Awied ( Tagana ) Narator
Conoy ( Tepas Foundation ) Documentation
http://sites.google.com/site/tepasfoundation/who-we-are/home
Langganan:
Postingan (Atom)
Arsip Blog
Profil Lembaga
- tepas foundation
- langkat, sumatera utara, Indonesia
- bergerak, berbuat, berjuang, melesatrikan, bertanggung jawab, salam lestari